10 Hari Gelisah Menulis

regram dari @rinafajjar – “Kisah cinta yang gelisah sang semut merah”

TAK ADIL JIKA aku tetap jadi semut dan kau masih saja jadi burung di atas sana, Tuhan memang TERLALU BAIK. IA TAK PERNAH menuntutku untuk mati saja ketimbang mendamba burung secantik kau, kecuali setan yang selalu rajin mengatakan untuk ku lebih baik mati, ketimbang suka denganmu, burung idamanku. Meski aku heran seukuran apa setan itu, apakah sesemut sepertiku? Sehingga ia bisa tiap hari mengelabuhi udara dan menyuruhku untuk bunuh diri karna tak bisa bersatu denganmu. Oh aku mengada, di mana pikiran sehatku.
.
Kau tau Dara, ku terbiasa berdoa tiap senja agar kau liat aku di bawah sini dan menerkamku, biar aku tak mati melawan kolonia semut lain, jujur lebih damai jika aku mati dalam patukanmu, dan bersemayam dalam perut berbulumu, oh aku suka itu.
Dara, manisku.., lihat aku. Di sini,di bawah. Berdiam diri di lubang galian tanah, menunggu kau buat kesalahan sehingga Tuhan mengutukmu menjadi semut. Eh tapi jangan, takut kau di kutuk jadi batu…aah jangan deh jangan…ngomong apa aku, mending mulutku DIHUKUM SAJA. .
.
Petir menyambar. DUAAARRR..
.
“Daraaa, anakku, kemari lah. Mendekatlah ke ranting terdekat sini”, ucap mama burung.
“mama dengar itu? Kenapa ada petir siang begini?”, tanya si burung dara pada mamanya.
“ehm..tak tau, mungkin Tuhan sedang menghukum sesuatu”
.
.
@30haribercerita
#10hbcgelisah
#10hbcgelisah06 – #regrann
via Instagram http://ift.tt/2qnKSOf

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s