10 Hari Gelisah Menulis

Regram dari @menadewilestari – Untuk apa sekolah?

Ini adalah petikan obrolan orang tua siswa yang kutemui ketika kunjungan ke rumahnya untuk menengok siswa yang telah beberapa hari absen. Beberapa orang masih berpendapat, buat apa sekolah menghabiskan biaya mahal, buang waktu, tenaga dan fikiran. Bahkan ada yang mencontohkan, anak tetangganya saja yang sekolah hingga kuliah, hanya jadi ibu rumah tangga.
“Bagi kami keluarga miskin buat apa sekolah, tak ada biaya. Lebih baik membantu orang tua di ladang, atau mengurus ternak bisa menghasilkan uang.” Ujar pak Somad.
Mereka masih berfikir bahwa sekolah adalah ladang untuk mencari uang bukan sumur untuk menimba ilmu pengetahuan.
Sering kali aku dihadapkan pada fenomena yang mengguris hati, Tina murid perempuanku yang sering bolos tanpa keterangan, kudapati lagi menjaga adik adiknya yang masih kecil sementara ayahnya bekerja sebagai tukang ojek sedangkan ibunya menjadi pemetik teh di perkebunan. Kuberi pemahaman, bahwa sekolah yang sesungguhnya adalah di universitas kehidupan. Kita bisa belajar di manapun gurunya siapapun.
Tapi lain halnya dengan Linda muridku. Dia adalah pejuang mimpi, meski ditinggal ibunya bekerja di Dubai dan ayahnya memilih menikah lagi. Linda dan kedua adiknya tetap bersekolah. Meski menumpang di rumah saudaranya dia tabah mengurus dan menyemangati kedua adiknya untuk tetap bertahan dan sama sama berjuang menyelesaikan sekolah.
Aku tanamkan keyakinan pada Linda, dengan sekolah linda akan mendapatkan ilmu untuk bekal mengarungi hidup, Tuhan akan meningkatkan derajat manusia berilmu. Hidup terus berlalu semua masalah selesai dengan sendirinya. Linda telah menyelesaikan jenjang sekolah menengah kini dia bekerja sambil kuliah. Begitupun dengan adiknya. Kami masih saling bertukar kabar. Sedangkan Tina telah diperistri juragan Kebun, entah istri ke berapa terakhir bersua dia tengah hamil tua, raut wajahnya mengikuti usia kandungannya.
Dari berbagai kasus, siswa yang datang dan pergi. Ku menarik benang biru ternyata sekolah itu diperlukan untuk merubah tingkah laku, merubah mindset, dan memperbaiki nasib. tak usah pintar tak juga harus cerdas yang lebih penting adalah beruntung.

@30haribercerita
via Instagram http://ift.tt/2qV50ZV

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s