Menyerang Yang Palsu, Mendewasakan Logika

Internet menjamur, ancaman merebak. Dari hoax, haters, sampai gempuran ujaran kebencian. Kita masih diam dan enggan bergerak?

Beberapa pekan lalu, ada satu kabar yang mendadak ramai diperbincangkan di salah satu grup WhatsApp ibu saya. Bukan perkara Ahok atau rencana demo besar-besaran, melainkan soal keberadaan Sate Padang yang katanya dibuat dari daging harimau. Sumbernya nggak jelas, dan saya langsung menerka itu adalah semacam berita hoax.

Rupanya benar. Isu tadi memang didalangi seorang pengguna media sosial yang berniat mengadakan percobaan menulis berita hoax. Barangkali, ingin lucu-lucuan, tapi nggak taunya malah jadi viral.

Entah ia ingin menyindir realitas atau semacamnya, tapi tersebarnya tulisan itu cukup menyiratkan eksistensi dua hal: 1) ada sebagian orang yang merasa terancam, karena isi berita tersebut dikira benar (termasuk beberapa orang di grup WhatsApp ibu saya), dan 2) ada yang justru semakin sadar bahwa ancaman hoax semakin sulit untuk ditolak.

Mirisnya, ancaman sekarang bukan cuma berkutat di situ saja. Di samping berita hoax makin marak, konten-konten digital jenis apapun makin hari makin beranakpinak. Di hampir semua platform digital -terutama YouTube atau media sosial, banyak yang dengan kilatnya bisa jadi viral, mempengaruhi banyak pikiran.

Jenisnya beragam. Mulai yang kreatif, sampai yang dianggap tidak positif. Semua itu tersebar, berkat jejaring internet yang makin aktif.

Alhasil, dengan bercampuraduknya suguhan konten dan derasnya arus penyajian, kita jelas harus berdamai dengan kenyataan bahwa sekarang, kita ini sedang melulu dihadiahi sajian, hiburan, dan drama baru. Mungkin saja, sekaligus figur idola baru.

Haters? Lovers?

Bicara soal “figur”, tentu tak lepas dari perkara pemuja dan pencaci. Secara populer, mereka lantas dikenal sebagai lovers (fanboy/fangirl) dan haters.

Mereka senantiasa tumbuh organik di berbagai sarana digital. Tatkala satu sosok dilempar, mereka bisa langsung menyatakan sikap. Senjatanya? Komentar. Bisa positif, bisa negatif. Bisa tuduhan, bisa pembelaan. Mereka ingin sosok idolanya nggak terlihat cacat. Mereka ingin sosok yang dibencinya, terlihat penuh keburukan.

“Sekarang, media sosial selain jadi sarana ‘sosial’, juga jadi mesin polarisasi fan-hater. Fanboyism dan hate culture dibangun di media sosial. Entah karena platform-nya, algoritma, atau cult yang dibangun di dalamnya. Hampir sulit menemukan diskusi rasional di culture fan-anti fan,” jelas Justito Adiprasetio, pengamat gaya hidup dan media sosial, dosen Universitas Padjajaran, yang saya yakini paham tentang fenomena ini.

“Coba ingat debat politik soal Jokowi-Prabowo saja. Khusus di Indonesia, debat politik bukan debat rasional. Tapi ya, debat fanboy-haters,” lanjut Tito, begitu ia biasa disapa.

Ketika mengesampingkan terminologi lovers, dan memfokuskan pada haters, otomatis kita akan menyinggung senjata lain bernama ujaran kebencian.

Kalau ditelaah, definisi ujaran kebencian ini sebetulnya paradoks terhadap nilai-nilai demokrasi yang tertanam di Indonesia. Contoh, kalau konsep ini kita artikan sebagai ekspresi kebencian yang diskriminatif, kita ujug-ujug juga tidak bisa menyalahkan. Pasalnya di Indonesia, setiap individu memiliki hak mendasar untuk berekspresi. Hak ini juga disebutkan dalam Universal Declaration of Human Rights yang berlaku secara internasional.

Namun, demi menyederhanakan konsep tadi agar relevan, sementara kita bisa mengerucutkannya pada definisi berikut: ujaran kebencian itu bersifat diskriminatif dan berpotensi provokatif. Ini yang selanjutnya akan jadi masalah, sekaligus ancaman mematikan.

Bilamana ujaran kebencian menjadi masif di kalangan haters, maka tradisi menghujat perlahan bisa menjadi aspek komunal masyarakat. Dan jika ini dibiarkan, maka sama seperti virus, haters akan menular.

Ketika dia menular, apakah sebaiknya diam?

Sekali lagi, ini ancaman. Ancaman bagi kebangsaan, kehidupan sosial masyarakat, dan bagi citra bangsa.

Problem-nya, semakin orang tenggelam di media sosial, risiko untuk terjerembab makin dalam ke palung ketidakrasionalan semakin besar. Kenapa? Karena kita jadi merasa punya teman, punya populasi yang punya cara pandang seperti kita. Menyeret kita jatuh ke ‘Argumentum ad populum’, satu jenis logical fallacy yang akan menyeret kita ke logical fallacies yang lain. ‘Ad hominem‘ dan seterusnya. Dalam bahasa awamnya, mentalitas kerumunan,” timpal Tito.

Argumentum ad populum tadi berarti demikian: “If many believe so, it is so”. Maksudnya, sebuah pendapat akan menjadi berterima apabila banyak yang meyakini pendapat tersebut benar. Senentara Ad hominem merupakan logical fallacy lain yang berarti satu “penikaman” terhadap argumen orang lain dengan merendahkan karakter atau personalitas orang tersebut. Apakah cukup relevan dengan yang selama ini dilakukan haters? Persis.

“Sekarang, ketidaksukaan nggak cuma ditunjukin pas nonton TV kayak dulu mama kita bilang nggak suka ini atau itu. Ketidaksukaan ini mendapat ruang, bahkan dapat penonton ketika ketidaksukaan tersebut disampaikan langsung ke teman-teman di media sosial. Lebih jauh bahkan di akun-akun yang kita nggak suka. Kita dapat teman, untuk tidak menyukai. Dan saat kita dapat teman, emosi kita teramplifikasi, kita juga semakin berani,” lanjutnya.

Lantas, di saat ujaran kebencian menajam dan kita serta-merta sedang menghadapi ancaman eksistensi berita tipuan, apa yang seyogianya sangat kita butuhkan?

Edukasi Digital

Jujur, saya bukan pengamat sosial atau orang paling pintar. Namun, batin saya tergelitik menghadapi kenyataan begitu banyaknya pihak yang “dimanipulasi” oleh kecanggihan era digital.

Sekali tekan “share”, berita bisa menyebar, salah atau benar. Sekali diprovokasi, maka kita ikut-ikutan membenci dan mencaci tanpa mau sedikit berpikir jernih.

Penanaman rasionalitas lantas akan jadi satu hal yang penting dan genting. Bagaimana akal yang telah terberi pada kita bisa digunakan sekaligus sebagai filter, selain sebagai alat pikir. Menyaring berita-berita, membuktikan kebenarannya. Menghilangkan kebencian berlebihan terhadap satu entitas yang berujung pada provokasi, atau jika dielaborasi lebih jauh lagi, bisa-bisa merujuk pada intoleransi.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya di Acara Peringatan Hari Guru di Sentul bahkan mengatakan bahwa dalam sebulan terakhir, jika beliau perhatikan di media sosial, ada saja yang saling hujat. “Ini bukan nilai Indonesia,” tekannya.

Pak Jokowi mengatakan, guru memiliki peran sentral dalam mendidik murid untuk tetap mengedepankan sopan santun ketika menggunakan media sosial. Beliau mengistilahkannya dengan pengajaran etika berinternet. Saya, menyebutnya dengan pemberian edukasi digital.

Bahwasannya segala yang digital –tak hanya media sosial, juga memiliki ancaman yang sama. Editan foto dari tangan-tangan pihak tak bertanggungjawab misalnya, bisa memunculkan satu berita tak mendasar yang berpotensi dipercaya sekian banyak orang. Ngeri? Pasti. Makanya, semua pihak butuh teredukasi.

Hati-hati Fanatisme

Selain lewat sistem pendidikan, edukasi digital itu patut pula dimulai dari setiap pribadi. Memberi pemahaman terhadap orang di sekitar, terutama anak kecil yang masih labil, supaya tidak mudah diprovokasi.

Kelaparan, kemiskinan, kekerasan, intoleransi, diskriminasi masih jadi hantu di negara ini. Kamu masih mau meriuhkannya dengan caci maki? Kamu masih mau dibodoh-bodohi? Mari kita renungkan dan jawab sendiri dalam hati. Tak perlu mengurusi berita tipuan sana-sini, lebih baik pikirkan apa yang bisa kita lakukan bersama untuk persatuan negeri ini.

Mengakhiri ini, izinkan saya mengutip sedikit catatan Najwa pada edisi Mata Najwa 18 Juni 2016:

Memuja-muja atau membenci setengah mati sama-sama berbahaya, kita niscaya terbenam dalam fanatisme buta,”

Jadi, setelah 2 tahun menjabat, kamu masih percayakah kalau presiden Jokowi itu keturunan Cina?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s