Kupu-Kupu dan Sia-Sia

Banyak waktu terbuang, dan kesalahan dijatuhkan pada kesia-siaan. Tapi sejatinya, apakah segala yang sia-sia itu ada?

“Gila ya, gue udah pacaran lama-lama, tapi akhirnya putus juga. Ngapain gue buang-buang waktu sama dia?”

Dialog tersebut pastinya tidak begitu asing di telinga. Mungkin saya atau kamu sering mendengarnya dari curhatan teman yang galau terus jadi banyak makan, sampai yang galau nyaris memutus nyawa. Atau bahkan, kita pernah merasakan sendiri pengalaman yang diungkap barusan?

Ya memang, konsep percuma dan sia-sia seringkali muncul dalam benak setiap orang, tatkala mereka telah berjuang mati-matian melakukan sesuatu, tapi hasilnya jauh melenceng dari harapan. Penyesalan datang dan setelahnya, kita hanya bisa mengumpat hal-hal yang telah dituntaskan, menyalahkan ini dan itu, tanpa mau berkaca. Kemudian, frase “Coba aja saya…”-lah yang akan sering menjadi tumbal penutup makian. Nggak bosan?

Penyesalan itu wajar. Namun sebenarnya, segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, kan, tidak mungkin bisa kita ulang lagi di masa yang akan datang untuk direvisi seperti skripsi? Lantas kemudian, apakah penyesalan dan penganggapan bahwa yang telah kita lakukan sia-sia itu serta merta membawa perubahan? Tidak. Kondisi rasanya tidak pernah akan berubah kalau kita hanya duduk diam, dan meratapi penyesalan. Justru, ia akan berubah ketika kita lihai menjadikan apa yang kita anggap sia-sia itu sebagai satu modal bernilai positif untuk menetapkan langkah berikutnya. Bukan begitu, kak, dik?

Mengapa saya berkata demikian?

Sederhana saja. Setelah melalui permenungan berkali-kali atas berbagai perbuatan yang saya kira sia-sia, saya malah mendapatkan satu hal. Bahwa segala yang kita anggap tak berguna, nyatanya punya nilai, sekecil apapun itu. Punya dampak, sereceh apapun ia akhirnya.

Tak rumit jika kamu bisa memahaminya lebih dalam. Ambil contoh kasus di awal tadi saja. Ketika kamu pacaran, dan telah menjalankan hubungan selama 5 tahun kemudian putus, sia-siakah segala sesuatu yang indah-indah, termasuk saat-saat makan sepiring nasi kucing berdua di angkringan pinggiran? Ya mungkin bagi sebagian orang, itu sia-sia.

Tapi, menurut saya tidak. Dalam kurun waktu lima tahun berpacaran, we got a lot, didn’t we? Kita bisa mempelajari kepribadian seseorang secara mendalam di waktu-waktu tersebut, atau bahkan, kita tanpa sadar telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik semasa pacaran?

Pada akhirnya, tentu bukan waktu lima tahun pacaran yang harus disalahkan. Melainkan, kesadaran kita akan konsekuensi atas segala hal, yang patut dipertanyakan. Jelas akan tampak lebih bijak apabila kita sadar akan hal bernama konsekuensi tadi. Karena hal ini yang terang-terang akan membimbing kita menentukan pilihan-pilihan hidup, termasuk ketika memilih mau makan tempe atau sushi.

Bahwasannya yang perlu kita ketahui, ada sebuah teori ekstrem yang dinamakan oleh Edward Lorenz sebagai Butterfly Effect.

Bahwa fenomena alam semisal badai, dapat diakibatkan oleh perubahan kepakan sayap seekor kupu-kupu yang berada di kejauhan. Bahwa, sebuah dampak yang amat besar, dapat disebabkan oleh hal sekecil apapun yang mungkin kita anggap sia-sia. Bahwa, mungkin hubungan baru kita setelah putus cinta (ya, istilah apa lagi yang tepat?) dapat berhasil hingga ke jenjang lebih tinggi, karena hal-hal yang telah kita alami di hubungan sebelumnya.

Oke, mudahnya agar kita tak kian berputar dalam pusaran kesia-siaan ini, kesadaran yang harus tumbuh dalam diri kita, yakni, tak ada lagi sesuatu sekecil apapun yang dapat kita juluki kesia-siaan. Semua punya nilai, punya dampak, dan punya pengaruh bagi apapun yang akan kita lakukan selanjutnya.

Dan apa yang jauh lebih penting kita lakukan selain hanya bisa duduk, merenung, dan menyesal? Pastilah bersyukur. Bersyukur karena kita pernah memilih dan boleh merasakan apa yang kita punya sebelumnya. Bersyukur, karena kamu telah membaca sebuah ceramah yang anti sia-sia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s