Misi Gizi

Seketika ada berita menggemparkan: ribuan pekerja Cina dikabarkan memasuki Indonesia untuk menjadi buruh dalam proyek smelter besar di Sulawesi. Dan menyusul dari Filipina serta Vietnam.

Sontak orang ramai berceloteh dengan nada yang mayoritas khawatir: entah karena merasa tersaingi dalam pasar tenaga kerja, merasa pemerintah tidak becus dalam membendung tenaga kerja asing, atau sekedar sentimen ras. Disadari atau tidak, tanggapan atas beredarnya kabar ini (disebut kabar karena dibantah oleh pemerintah secara resmi) sejatinya menyiratkan ketakutan dan problem yang jauh lebih mendasar: sebegitu tidak siapnyakah tenaga kerja lokal kita bersaing?

Mengapa Minder?

Pertanyaan yang jadi sub-heading di atas kebetulan melayang di kepala saya ketika sedang makan mi instan di depan televisi, persis sambil melihat berita soal invasi buruh Tiongkok. Saya tiba-tiba teringat celotehan Ibu saya soal larangan makan mi instan di rumah, kecuali kalau sangat kepepet, karena kadar gizinya yang sangat minim dan sarat pengawet buatan. Kebetulan, Ibu saya adalah perawat kesehatan yang memang terdidik dan terlatih perihal gizi. Namun, berapa banyak kah orangtua yang punya kesadaran sama soal pilihan untuk makan sehat tersebut?

Di satu sisi, mi instan memang memberikan rasa kenyang yang juga instan. Di sisi lain, mi instan juga menjadi bukti bahwa variasi makanan kita makin banyak dan memiliki harga yang bersaing, apalagi pangsa pasarnya sudah sampai luar negeri.

Tapi..

Gizinya sangat tidak mencukupi.

Dan apakah yang bergizi selalu tidak terjangkau?

Mari kita runut perihal kaitan harga dan nutrisi. Memang sudah jadi tren sejak jaman jebot harga daging sapi maupun ayam sulit sekali dijamin kestabilannya sepanjang tahun. Sama halnya dengan harga tempe dan tahu yang makin tinggi karena kedelainya diimpor. Tapi yang paling pamungkas adalah harga beras. Ya, harga sumber karbohidrat pujaan orang Indonesia ini makin mahal kendati secara rutin dibuka keran impor untuk mengendalikan harga.

Konsekuensinya, kalau harga beras sudah naik, makin kecil sudah alokasi pendapatan rumah tangga untuk membeli sumber gizi lainnya seperti protein, vitamin, mineral, dan lainnya.

Artinya? Kita tergantung hanya dari karbohidrat yang cuma memuaskan kebutuhan kadar glukosa dan jauh dari mencukupi kepenuhan gizi. Di Negara-negara maju, sumber utama pangan sudah bergeser ke protein dan vitamin yang menjadi asupan utama otot dan otak: combo organ vital manusia, motor utama homo sapiens modern.

Mau menyalahkan Orde Baru karena mempersempit sumber karbohidrat menjadi ‘hanya’ nasi? Satu poin, ya. Tapi pemerintah sekarang menambahkan poin kesalahan dengan mempertahankan kultur yang sama, tanpa ada upaya promosi diversifikasi sumber pangan. Serta merta, kita menafikkan jagoan pangan daerah seperti sagu, jagung, dan ubi . Dan sayangnya, masyarakat latah pasrah.

Kalau sudah begitu, kita dituntut untuk lebih cerdas dalam mengolah makanan. Pasalnya, selain kita lebih menyukai makanan instan, kita seringkali terjerembab pada pilihan cepat nan mudah: goreng aja deh atau beli makanan kaleng deh, padahal bahan makanannya fresh dari pasar pagi sebelah yang harganya murah meriah. Yah, gizi musnah sudah.

Kamu = Makanan Kamu

Dengan fakta-fakta yang demikian, terlepas dari faktor terkait lainnya yang selalu jadi sorotan seperti kualitas pendidikan, nampaknya pertanyaan ‘mengapa minder?’ sudah bisa agak terjawab. Coba kita ulangi daftarnya:

  1. Pengetahuan akan gizi dan sumber pangannya tergerus informasi makanan instan;
  2. Bahan makanan dasar mahal dan makin mahal;
  3. Kebijakan pemerintah tidak suportif terhadap 2 poin di atas.

Kalau kamu ngangguk-ngangguk pada 3 poin di atas dan khawatir pada berita invasi buruh Tiongkok serta Filipina, mungkin solusinya adalah..

Minum Tolak Angin? Karena orang pintar, minum..

Becanda ah. Masak ngiklan.

Namun nampaknya pola makan sehat harus lebih sering diiklankan daripada iklan mi instan seleraku? Dan wahai kaum menengah terdidik, maukah kita menggunakan kesadaran dan ilmu yang telah didapat untuk memilih pola konsumsi yang lebih sehat dan pangan yang lebih bergizi serta kemudian menularkannya pada orang lain?

Jadi, makanan tak hanya nasi dan kenyang bukan berarti cukup dengan mi, karena pada dasarnya misi gizi sangat murni: meminimalisir khilaf otak dan tubuh sehingga siap berkompetisi.

Jangan sampai makanan kita berkata: misi misi, gizi numpang lewat…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s