Perkara Alon-alon Asal Kelakon, Diskon, dan MEA

Kenapa lama? Kenapa lambat? Kenapa pelan-pelan nggak selamanya membawa selamat?

Tuturan ini adalah tuturan omelan. Boleh kamu baca hingga selesai. Pun boleh kamu abaikan saja sambil melambai. Tapi hati-hati. Jangan sampai kamu menyesal. Sungguh. Jangan sampai kamu menyesal seperti Rangga yang mengecewakan Cinta, karena begitu sibuk menghitung purnama, hingga tak ingat kembali ke Indonesia. Sampai-sampai, Cinta lalu sedih dan galau, hingga hilang konsentrasi dan lantas bertanya, “Ada Aq*a?”

Oke ini lawakan basi. Maaf.

Di omelan ini, saya jelas tak akan membahas problematika kisah cinta dua remaja yang kini telah beranjak tua namun tetap berwajah enak dipandang itu. Lebih dari itu, saya justru ingin melancarkan aksi protes terhadap sebuah ujud kebiasaan manusia di sekitar saya, yang disadari atau tidak, telah berakar menjadi penyebab utama keterlambatan laju gegas negara kita. Kebiasaan yang, meski remeh-temeh tampaknya, tapi nyatanya berdampak besar bagi kemaslahatan hidup bangsa dan negara. Kebiasaan mendarah daging yang mungkin penyebabnya bisa saja dibebankan pada sepenggal filosofi Jawa: alon-alon asal kelakon. Duh, saya serius loh ini, seserius saya menyaksikan kegalauan Rangga di film AADC? 2.

Kok?

Jadi gini, kawan. Saya bukannya nggak menghargai pesan orang Jawa tadi. Namun setahu saya, arti dari pepatah tadi adalah melangkah pelan-pelan dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan, untuk mencapai suatu tujuan. Tapi kesannya lama-kelamaan, pepatah itu malah cenderung disalahartikan. Banyak yang jadinya hanya melangkah pelan-pelan, tanpa disertai kehati-hatian, dan tanpa peduli pada apa yang menanti di depan sana. Padahal perlu diingat, hati-hati dan lambat-lambat itu jelas berbeda, lho.

Kemudian secara logika, apakah pernyataan ini bisa diterima:

jika kita tetap bergerak lamban, maka tak heran jika perkembangan negara kita pun sangat tertatih mengekor di belakang negara lain?

Ah, masa iya?

Coba saja kamu pergi ke mal-mal pada saat musim liburan dengan diskon bejubel. Dan masuk ke beberapa toko yang disesaki para pemburu diskon yang doyan produk bermerek. Antrean mengular, wajah konsumen sebal. Salah siapa? Salah kasirnya! Lambat. Mau masukkin baju ke kantong plastik saja, lama. Bandingkan dengan apa yang akan kamu lihat di negara tetangga kita yang disebut-sebut sebagai surga belanja pula. Meski pekerjanya rata-rata sudah berusia oma-opa, mereka masih cekatan melayani pelanggan, sehingga dalam kondisi diskon yang serupa, antrean bisa sangat diminimalisir. Konsumen senang, barang laku, ekonomi cepat berputar, semua serba cepat. Ini baru namanya “waktu adalah uang”.

Apalagi, MEA sudah hadir di depan mata. Butuh kecepatan pesawat jet untuk mengimbangi kapabilitas tenaga asing yang sudah bebas keluar masuk sana sini antar negeri. Tanpa bersaing, kita akan melulu tertatih. Silahkan saja nikmati langkah pelan-pelan yang tak bisa menandingi.

Jangan cuma bisa bergegas update status di media sosial waktu lagi hang out di kawasan sosialita. Atau, membesar-besarkan isu tertentu dengan cemoohan provokatif yang malah membuang-buang waktu. Atau, menerobos lampu merah, sehingga ketika masih pada titik oranye saja, motor-motor mobil-mobil sudah tancap gas tak peduli, bikin rawan kecelakaan. Mengapa tak bisa bergegas di hal-hal lain yang jauh lebih menguntungkan, sih?

Mungkin kamu bilang omelan saya basi. Ya, nggak apa-apa. Tandanya, memang omelan ini sudah dicetuskan oleh banyak pihak lain sejak lama. Tapi ketika omelan ini kembali muncul dari jari-jari saya, ini berarti, masyarakat kita masih belum mengubah kebiasaannya berlambat-lambat. Padahal, apa, sih, susahnya memercepat langkah?

Toh, generasi muda Indonesia jauh lebih banyak dari generasi oma-opa yang di luar negeri sana masih punya tenaga kuda.

Ingat, persaingan sengit di era MEA sudah menggedor-gedor pintu dan mendesak masuk ke negeri kita. Masa masih ngurusin perkara Awkarin dan Anya Geraldine aja? Bergegas membuat perubahan, lah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s