Heroisme Jelata

Heroism is accessible. Happiness is more difficult.

-Albert Camus-

Tertangkap mata pada beberapa kesempatan yang lalu, Ahok tiba-tiba berbaju ala pahlawan Holywood, Ironman.

Sedang ikut casting? Bukan kok, itu hanya poster kreatif hasil olah kreasi grup relawannya yang mendukung pencalonan kembali Gubernur incumbent Jakarta itu. Entah apa fantasi dari para relawan sang calon tersebut, tapi mudah saja ditebak bahwa para relawan menganggap bahwa si Gubernur punya sepak terjang seheroik si pahlawan berbaju zirah merah itu.

Personifikasi pahlawan yang serupa nampaknya lumrah dimiliki sejumlah orang dewasa lainnya, tentu dengan figur dan gambaran yang berbeda-beda. Dalam level yang lebih manusiawi, ‘kekuatan super’-nya dicorakkan dengan kualitas unggul manusia biasa, seperti sifat-sifat pembaharu, progresif, dan reformis. Terdengar biasa saja sih sepertinya, ya kalau dunia ini tidak dipenuhi oleh pencoleng dan koruptor seperti sekarang. Kualitas terang ini seolah jadi proyeksi kesempurnaan yang melekat pada para manusia unggul yang biasa kita sebut ‘pahlawan’ itu.

Emang enak ya jadi pahlawan?

Kalau kita bisa jadi setenar Pak Gubernur Jakarta, atau kepala daerah anyar lainnya, jawabannya bisa jadi membuat kita mengangguk. Apalagi mungkin Pak Ahok bisa naik kelas menjadi Presiden suatu saat nanti. Tapi apakah jadi pejabat publik yang jujur dan berintegritas itu gampang? Kalau memang jalannya semulus itu, Pak Ahok tak mungkin marah-marah menghadapi setumplek masalah dan birokrasinya yang mbalelo.

Mau jadi pejabat atau tidak, susah senang pasti selalu melingkupi hari-hari pengabdian, apapun profesinya. Kebetulan, pejabat publik melaluinya dalam terang sorotan massa.

Di sisi lain yang lebih sepi dari mata memandang, ada figur-figur yang juga banting tulang melakukan kebaikan yang tak tertangkap kamera dan luput dari sorak-sorai. Sebutlah saja namanya pahlawan jelata.

Makhluk semacam ini eksis dengan sifat mulia yang begitu personal di mata pengagumnya, orang-orang beruntung yang bisa tersentuh dampak keajaiban mereka. Biarpun minus puja-puji dan gaji dengan banyak tanda titik, para pahlawan jelata senantiasa bersedia diusik oleh ketidaksejahteraan orang lain dan karenanya merasa harus ada pihak yang ambil aksi.

Ada mahasiswa yang tergerak melihat banyak anak jalanan, bergegaslah ia membangun sanggar bagi mereka sebagai tempat asah kemampuan yang bermanfaat. Ada bapak tua yang sedih melihat lingkungan kotor karena sampah, tergeraklah ia membuat bank sampah dan mengajak seantero tetangganya untuk berpartisipasi. Alhasil, anak jalanan mendapat ruang belajar dan sampah bisa berputar jadi uang.

Kegusaran kelihatannya pilihan, tapi bagi pahlawan jelata, mungkin jadi hobi. Selain karena ketidakberuntungan manusia selalu ada dimana-mana, pahlawan jelata terlatih peka dan secara sadar tergerak membikin sesuatu untuk menolong sesamanya tanpa pikir panjang soal untung dan rugi.

Sebenarnya, ada banyak fakta sosial yang potensial mengganggu ketentraman hati nurani kita.

Salah satunya, seorang ahli pernah mengemukakan perumpamaan yang mengagetkan bulu roma saya:

Sekitar 6-7 juta bayi lahir hidup per tahunnya di Indonesia. Di antara kelahiran hidup itu, 359 ibu meninggal per 100.000 kelahiran hidup, sehingga kira-kira 15.000 – 17.000 ibu meninggal dalam proses kelahiran setiap tahunnya.

Jumlah yang sama setara dengan jumlah kematian dalam kecelakaan pesawat Boeing 777 dengan penumpang penuh ibu.

Namun, terhitung jatuh setiap minggu.

Seberapa mencengangkan fakta itu buat kita? Kamu? Yang jelas, ada tenaga kesehatan yang gusar dan akhirnya mengabdikan diri pada peningkatan kesehatan ibu hamil di daerah terpencil. Kata ‘terpencil’ sudah cukup menggambarkan fasilitas dan kompensasi sebanyak apa yang mereka terima.

Dengan kondisi seperti itu, asyik rasanya kalau bertanya, ‘Apakah mereka bahagia?’.

Tidak ada kunci jawabannya. Karena diberkahi kepekaan, tentu saja tak mudah bagi tenaga kesehatan tersebut menghadapi kenyataan bahwa ternyata 15.000-17.000 bayi harus kehilangan ibunya sekejap setelah dilahirkan. Tak mudah juga bagi si mahasiswa menghadapi kemungkinan penolakan orangtua dari anak jalanan yang dibinanya karena tuntutan cari nafkah, sama sulitnya dengan si bapak tua mengajak masyarakat berpartisipasi untuk mengumpulkan dan memilah sampah.

Perkaranya, beban itu ditanggung hari demi hari, dengan goresan pedih yang sama. Ada luka tak kasat mata, sampai akhirnya pertanyaan tentang kebahagiaan menggelantung begitu saja tanpa jawab.

Tapi toh, karya-karya baik seperti contoh di atas tetap ada. Bahkan, makin mengganda dan berlipat jumlahnya.

Kalau memang para pahlawan jelata itu tak mendapat kebahagiaan hakiki, mengapa makhluk semacam ini tetap eksis walau senyap pujian?

Pahlawan jelata namanya. Andai saja ada lebih banyak ‘saya’ dan ‘anda’ dalam kerumunan tak hingga.

Maukah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s